YOGYAKARTA – Senin (27/4) menjadi momentum bersejarah bagi kami di LAZ Goedang Zakat Al-Khairaat. Bertempat di kantor pusat kami di Yogyakarta, kami berkesempatan menerima kunjungan kerja sekaligus pembinaan langsung dari Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Prof. Waryono Abdul Ghafur. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi formal, melainkan sebuah refleksi besar atas capaian zakat di Daerah Istimewa Yogyakarta yang tengah mengalami tren pertumbuhan luar biasa.

Berdasarkan data yang dirilis Kemenag, kinerja penghimpunan zakat di wilayah Kami mengalami pertumbuh dari Rp300 juta melonjak drastis hingga tembus Rp2,1 miliar pada tahun 2025. Bahkan, memasuki kuartal pertama tahun 2026, angka ini terus merangkak naik ke posisi Rp1,7 miliar. Namun, di hadapan Prof. Waryono, kami diingatkan akan satu hal fundamental, Angka hanyalah angka jika tidak menjelma menjadi dampak.
“Pertumbuhan ini positif, tetapi tidak boleh berhenti pada angka. Zakat harus bergerak ke arah produktif dan mampu menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” tegas Prof. Waryono dalam arahannya. Pesan ini menjadi pelecut semangat bagi kami di LAZ Goedang Zakat Al-Khairaat untuk terus bertransformasi dari sekadar lembaga penghimpun menjadi motor pemberdayaan ekonomi umat.

Salah satu inisiatif yang menjadi sorotan dalam kunjungan ini adalah program “Berdikari”. Melalui program ini, kami fokus pada pengembangan keterampilan Single Mother (Ibu dari anak-anak yatim binaan Kami), mulai dari pelatihan Totok Punggung hingga literasi pemasaran digital. Kami percaya bahwa memberikan “kail” jauh lebih berkelanjutan daripada sekadar memberikan “ikan”. Dengan skema pemberdayaan ini, para mustahik tidak hanya menerima bantuan tunai sesaat, tetapi didorong untuk memiliki nilai tambah ekonomi. Target akhirnya jelas yaitu transformasi dari mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat) yang mandiri secara finansial.
Selain fokus pada pemberdayaan, kami juga menyambut baik arahan Kemenag mengenai sinkronisasi data melalui Identitas Kependudukan Digital (IKD). Langkah ini sangat krusial untuk meningkatkan akurasi penyaluran dan memastikan tidak ada tumpang tindih bantuan.
Di sektor pendidikan, LAZ Goedang Zakat Al-Khairaat juga terus memperkuat skema pembiayaan jangka panjang. Bagi kami, beasiswa penuh yang mencakup biaya hidup bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi sosial untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi secara berkelanjutan.
Sebagai lembaga yang memegang amanah publik, kepatuhan terhadap standar tata kelola adalah hal yang penting. Sesuai dengan PMA Nomor 16 Tahun 2025, kami berkomitmen untuk terus menyusun rencana kerja yang selaras dengan prioritas nasional, terutama dalam pendayagunaan zakat produktif.
Ke depan, LAZ Goedang Zakat Al-Khairaat ingin menjadi bagian dari ekosistem zakat yang tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam penguatan ekonomi nasional.
Terima kasih kepada Kemenag RI atas bimbingan dan kepercayaannya. Perjalanan masih panjang, namun dengan sinergi antara regulator, lembaga amil, dan para donatur, kami optimis zakat akan menjadi pilar utama kesejahteraan di Yogyakarta dan Indonesia.
Mari terus berzakat, mari terus memberdayakan.
