
Bagi umat Muslim, bulan Muharram bukan sekadar penanda bergantinya tahun dalam kalender Hijriah. Bulan mulia ini menyimpan berbagai peristiwa bersejarah dan momentum spiritual yang mendalam. Salah satu momen yang paling melekat dalam tradisi masyarakat Indonesia adalah Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.
Menariknya, hari tersebut sering kali disebut secara kultural sebagai “Lebarannya Anak Yatim.” Namun, mengapa tanggal 10 Muharram begitu lekat dengan julukan tersebut? Berikut adalah 5 alasan utama di balik tradisi yang menyentuh hati ini:
1. Tradisi Mengusap Kepala Anak Yatim (Idul Yatama)
Istilah “Lebaran Anak Yatim” atau Idul Yatama muncul sebagai bentuk ungkapan (majas) karena pada hari tersebut, mereka menjadi pusat perhatian dan kegembiraan.
Ada tradisi yang menganjurkan umat Muslim untuk mengusap kepala anak yatim pada tanggal 10 Muharram. Mengusap kepala di sini adalah simbol dari pemberian kasih sayang, perlindungan, dan perhatian yang utuh sesuatu yang sering kali hilang dari kehidupan mereka sehari-hari.
2. Anjuran Meluaskan Nafkah dan Berbagi Kebahagiaan
Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (bulan yang disucikan). Di momen ini, umat Muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan sosial. Salah satu anjuran yang kuat pada hari Asyura adalah meluaskan nafkah atau bersedekah kepada keluarga dan orang-orang yang membutuhkan.
Dalam konteks sosial, anak-anak yatim terutama mereka yang berada di garis kemiskinan atau pelosok daerah adalah kelompok prioritas yang paling berhak merasakan kelapangan rezeki tersebut. Gerakan kolektif inilah yang membuat suasana hari itu terasa hangat seperti suasana lebaran.
3. Meneladani Sunnah dan Cinta Rasulullah SAW
Rasulullah SAW adalah seorang yatim sejak kecil, dan beliau sangat mencintai anak-anak yatim. Dalam sebuah hadits, beliau mengisyaratkan bahwa kedudukan orang yang menyantuni anak yatim di surga kelak akan sangat dekat dengan beliau, ibarat jari telunjuk dan jari tengah.
Momentum awal tahun Hijriah di bulan Muharram dimanfaatkan oleh umat Muslim sebagai waktu terbaik untuk menyalakan kembali semangat kepedulian tersebut, meneladani langsung bagaimana Rasulullah memuliakan mereka.
4. Refleksi Sejarah Penuh Kemenangan dan Rasa Syukur
Tanggal 10 Muharram adalah hari di mana banyak nabi terdahulu diselamatkan oleh Allah SWT dari marabahaya. Salah satunya adalah kisah Nabi Musa AS yang diselamatkan dari kejaran Firaun.
Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan dan kemenangan tersebut, umat Muslim merayakannya dengan berpuasa sunnah (Puasa Asyura) dan mengekspresikan syukur tersebut ke dalam aksi nyata yaitu berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang telah kehilangan figur ayah.
5. Momentum Menggerakkan Solidaritas Umat secara Serentak
Mengapa harus ada hari khusus? Alasan psikologis dan sosialnya adalah momentum. Jika tidak digerakkan secara serentak, kepedulian sering kali tertunda oleh kesibukan duniawi.
Dengan adanya momentum “Lebaran Anak Yatim” di tanggal 10 Muharram, masyarakat bergerak bersama. Lembaga zakat, komunitas kreatif, hingga individu menciptakan ekosistem berbagi yang masif. Hasilnya, dampak bantuan yang diterima oleh anak-anak yatim menjadi jauh lebih besar dan merata.
Sebutan “Lebarannya Anak Yatim” pada 10 Muharram adalah tradisi indah yang menghidupkan sisi kemanusiaan umat Islam di awal tahun baru. Namun, esensi paling penting dari momentum ini adalah sebagai pemantik.
Kebahagiaan yang mereka rasakan di hari Asyura idealnya menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa kepedulian, perlindungan, dan dukungan untuk masa depan anak-anak yatim harus terus mengalir di sepanjang hari. Barakallahu fii kum..
