Manusia Paling Baik Menurut Rosulullah SAW, Siapakah Dia ? Mari Simak Penjelasan Berikut.

Blog Ditulis oleh : Administrator 04 Desember 2023 | 12:16:37

Print Share Tweet Whatsapp Messanger

Sebagai muslim harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Bentuk mensyukuri nikmat dengan berusaha selalu menjadi orang yang berbuat baik atau bermanfaat untuk orang lain baik bagi lingkup keluarga, lingkungan sosial hingga pekerjaan, karena manusia paling baik adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Pada hakikatnya kebaikan atau manfaat tersebut akan kembali kepada diri kita seperti yang disampaikan pada surat Al Isra ayat 7.

Dalam lingkup pekerjaan, memiliki bagian masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya. Dengan totalitas keikhlasan, saatnya masing-masing melaksanakan peran dan tugasnya dengan baik. Setiap orang dalam posisinya masing-masing berkarya dan berkontribusi dalam batas semaksimal yang bisa diupayakan.

Karya dan kontribusi adalah kunci eksistensi diri setelah iman. Rasulullah bersabda tentang manusia paling baik dalam hadits berikut: 

خصلتان لا شيء أفضل منهما الإيمان بالله والنفع بالمسلمين

Artinya, “Dua hal di mana tidak ada yang lebih utama dari keduanya, yaitu beriman kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama muslim,” (Maqalah 1, Nashaihul Ibad).

Dalam sabda yang lain, Rasulullah bersabda :

خير الناس أنفعهم للناس

"Manusia paling baik adalah orang yang paling banyak manfaat, karya dan kontribusinya untuk orang lain" (HR. Thabrani).

Ukuran kualitas diri adalah kontribusi. Setiap diri mesti bertanya kepada diri sendiri, kontribusi terbaik apa yang bisa kita lakukan, baik di sekolah, keluarga dan masyarakat. Setiap pagi, hendaknya kita bertanya, "Sudahkah membantu orang kita hari ini ?, siapa yang urusannya bisa kita ringankan hari ini?, siapa yang masalahnya bisa kita selesaikan hari ini ?. Orang yang setiap pagi selalu punya niat untuk melakukan kebaikan untuk orang lain, mendapat pahala kebaikan bahkan sebelum kebaikan itu dia lakukan. Rasulullah bersabda:

ومن أصبح ينوى نصرة المظلوم وقضاء حاجة المسلم كانت له كأجر حجة مبرورة

Artinya, “Barang siapa yang di pagi hari berniat menolong orang terzalimi dan memenuhi kebutuhan seorang muslim, ia beroleh pahala sebesar pahala haji mabrur,” (Nashaihul Ibad: Maqalah 1).

Kontribusi itulah yang akan membuat hidup kita punya nilai. Bukan sekedar hidup, sekedar ada, sekedar hadir, sekedar melengkapi kehidupan. Tapi betul-betul berperan, menghadirkan solusi, membantu dengan kemampuan yang kita miliki baik itu berupa materi, tenaga, maupun pikiran. Lisan, kedudukan, harta, kekuatan badan, dan semua yang kita miliki menjadi aset dan sarana memberikan kebaikan.

Orang-orang semacam ini, hadirnya selalu ditunggu dengan penuh kerinduan karena membawa banyak kebaikan dan memberikan kemanfaatan. Jika dia tidak ada, orang akan mencari. Seolah keberadaan dirinya itu wajib adanya. Jika dia hadir, orang-orang di sekelilingnya akan senang dan bahagia.

Pada saatnya, seseorang demikian akan dikenang baik di tempat manapun dia pernah berlabuh. Di setiap tempat, dia meninggalkan karya-karya kebaikan sebagai monumen khidmatnya yang terus akan mengalirkan pahala. Semakin banyak karya-karya itu maka namanya akan dikenang sepanjang zaman, didoakan banyak orang, dijadikan teladan, seperti para nabi dan orang-orang soleh.

Itulah diantara doa Nabi Ibrahim: 

وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Artinya: Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. (Asy-Syu’ara’: 84)

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang selalu memberikan manfaat dan karya-karya kebaikan. Kapan pun, di manapun. Kita berlindung kepada Allah, jangan sampai kita menjadi orang yang hadirnya menyusahkan orang lain karena keburukan dan kezaliman yang kita lakukan.

Yang perlu diingat, agar kita bisa memberikan kontribusi, kita harus punya kompetensi. Ada ungkapan:

فاقد الشّيءِ لا يُعطيه

Artinya: Orang yang tidak memiliki tidak akan bisa memberi.

Tanpa kompetensi, kontribusi itu hanyalah mimpi. Untuk menolong orang lain butuh kekuatan. Orang yang lemah tidak bisa menolong orang lain, bahkan mungkin dia perlu untuk ditolong. Bukankah untuk menolong yang tenggelam, Anda harus pandai berenang?  Bukankah untuk memapah orang yang lemah, Anda harus kuat untuk menopang? "Tangan di atas" hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. 

Baca juga : Mari Salurkan Bantuan Untuk Warga Palestina Sekarang!


Print Share Tweet Whatsapp Messanger